<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7212335869891600377</id><updated>2012-02-15T23:45:29.012-08:00</updated><category term='rapor anak'/><category term='Konsultasi dan curahan hati'/><category term='anak'/><title type='text'>Semarang Family Center</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Semarang Family Center</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14939110879001308465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7212335869891600377.post-5476571812781283180</id><published>2010-04-16T07:35:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T07:40:02.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><title type='text'>Mengenal siklus tidur bayi 0-3 bulan</title><content type='html'>Pada bulan-bulan pertama bayi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Pada usia 0-3 bulan bayi menghabiskan waktu sekitar 16-17 jam sehari, walaupun pada sebagian bayi waktunya bisa lebih sedikit atau lebih lama. Rentang waktu tidur paling rendah adalah 10 jam hingga yang paling tinggi mencapai 21 jam sehari. Kebanyakan bayi menghabiskan waktu tidur terlamanya pada malam hari. Kira-kira mulai usia empat bulan pola tidur bayi bergerak lebih dekat ke pola tidur orang dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Beberapa ahli memberi beberapa kategori yang bisa membantu kita untuk mengenali jenis tidur bayi, yaitu :&lt;br /&gt;a.	tidur nyenyak  : bayi biasanya berbaring  dengan mata tertutup, bernafas teratur dan tidak membuat suara/ocehan serta tidak terganggu dengan respon dari luar, misalnya gerakan atau suara berisik. Bayi yang tidur nyeyak, biasanya akan tidur lebih lama. Sebagian besar bayi lebih mudah tidur nyenyak pada malam hari, terutama dalam keadaan kenyang dan lelah. &lt;br /&gt;b.	tidur biasa  : dalam fase ini bayi sangat sedikit bergerak, bernafas serak dan disertai sedikit desah. Dalam tidur ini bayi akan tidur cukup lama, namun biasanya bangun untuk mengoceh.&lt;br /&gt;c.	tidur terganggu : waktu tidur ini lebih pendek karena disertai menangis lalu tidur lagi. Mata bayi dalam keadaan tertutup, tapi masih berkedip-kedip disertai nafas  yang tidak teratur dan beberapa gerakan tangan dan kaki yang tidak teratur serta beberapa suara desahan. Para ibu sebaiknya masih berada di samping bayi dan tidak melepaskan puting susu, kalaupun si bayi sudah melepas puting susu usahakan tidak segera meninggalkan tempat tidur karena bayi akan mudah terbangun karena gerakan dan suara. &lt;br /&gt;d.	mengantuk : mata bayi tertutup sebagian namun masih berkedip-kedip dan tampak berkaca-kaca, biasanya disertai ocehan dan gerakan menggeliat seperti mencari putting susu. Pada sebagian bayi ada yang lebih suka dibaringkan di kasur ditemani sang ibu ketika mengantuk sambil menyusu, namuan ada pula yang lebih cepat tertidur jika diayun-ayun dalam gendongan dalam keadaan mengantuk. Ibu yang responsif ketika bayi mengantuk akan membantu bayi tidur lebih cepat sehingga tidak perlu menangis keras atau rewel. &lt;br /&gt;Mencapai kualitas tidur lelap akan sangat membantu bagi perkembangan bayi. Bayi yang memiliki kualitas tidur yang baik memiliki berat badan yang lebih berat dan lebih jarang sakit dibandingkan bayi yang tidur dengan gelisah. Kualitas tidur yang baik ditandai dengan sedikitnya bayi terbangun dan menangis keras serta gelisah, terutama di malam hari. Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan ibu untuk membantu bayi mencapai kualitas tidur yang baik : &lt;br /&gt;1.	kenali tanda-tanda jika si kecil mengantuk, segera tidurkan dan jangan sampai si kecil menangis karena hal ini akan membuatnya makin susah terpejam dengan lelap&lt;br /&gt;2.	jauhkan mainan dari box/tempat tidur si kecil agar ia tidak tertarik untuk kembali bermain &lt;br /&gt;3.	kenali cara ternyaman bagi si kecil untuk tidur, apakah sambil diayun kecil, sambil berbaring dan menyusui atau digendong. Tiap anak memiliki kebiasaan yang berbeda-beda &lt;br /&gt;4.	pastikan ruangan nyaman untuk tidur, bebas dari nyamuk, tidak terlalu panas atau dingin bagi si kecil&lt;br /&gt;5.	bisikkan doa tidur dan belai lembut badannya. Pastikan anda masih di sisinya sampai bayi terlelap, bangun tiba-tiba dari sampingnya akan membuat bayi mudah terbangun. &lt;br /&gt;6.	segera susui jika di sela waktu tidur si kecil menunjukkan tanda-tanda ingin menyusui, misalnya menggerak-gerakkan mulutnya, lebih banyak bergerak, atau mengeluarkan desah. Terlambat memberikan  ASI disela tidur akan membuat bayi menangis keras&lt;br /&gt;7.	segera ganti popoknya jika basah dan kotor &lt;br /&gt;8.	amati dan catat waktu-waktu tidurnya sebagai referensi pada hari-hari selanjutnya  agar lebih mudah menidurkan si kecil. &lt;br /&gt;Jika si kecil tidur lelap, bunda bisa melakukan aktivitas lain dengan lebih tenang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7212335869891600377-5476571812781283180?l=semarangfamilycenter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/feeds/5476571812781283180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/04/mengenal-siklus-tidur-bayi-0-3-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/5476571812781283180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/5476571812781283180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/04/mengenal-siklus-tidur-bayi-0-3-bulan.html' title='Mengenal siklus tidur bayi 0-3 bulan'/><author><name>Semarang Family Center</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14939110879001308465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7212335869891600377.post-7803345418805271171</id><published>2010-02-22T00:26:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T00:42:35.325-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rapor anak'/><title type='text'>arti nilai rapor sang anak</title><content type='html'>Ibu tak pernah tak datang saat pengambilan rapor. Ibu selalu hadir saat nilai akhir kami dibagikan, apapun kesibukannya. Ibu akan selalu tersenyum dan memberiku selamat setelah menerima rapor, apapun nilainya. Tadinya aku berpikir bahwa mengambil rapor anak adalah hal yang biasa, karena itulah kewajiban orang tua. Belakangan aku tahu, bahwa kesediaan orang tua mengambil rapor anaknya adalah hal yang sangat luar biasa. &lt;br /&gt; Pernah suatu kali ibu terlambat, orang tua siswa lain sudah berdatangan. Ibu belum tampak. Aku ingat, waktu itu aku cemas—menunggu di depan gerbang. Memastikan  bahwa ibu tidak salah masuk kelas. Berdoa dalam hati, mudah-mudahan ibu segera datang. Maka mata pun makin awas, memperhatikan orang yang berlalu lalang; memastikan ibu segera datang. Dan ibu tak pernah tak datang. Ibu biasanya akan meminta maaf jika terlambat, tapi ibu tak pernah tak datang untuk mengambil raporku, adik atau mbak. Meski aku tahu, ibu akan datang—menunggu ibu segera muncul saat pengambilan rapor adalah hal yang membuat cemas. &lt;br /&gt; Aku tak tahu bagaimana rasanya saat orang tua tak datang saat pengambilan rapor. Tapi seorang kenalan pernah bercerita, tentang ibu dan rapornya. Ibunya datang saat pengambilan rapor pertama, saat ia belum menjadi juara kelas. Melihat ibu teman-temannya dipanggil lebih awal oleh guru, dipersilahkan maju dan memberi sambutan di kelas—maka ia pun ingin agar suatu saat ibunya juga bisa merasakan hal yang sama; ia ingin membuat ibunya bangga. Maka ia pun belajar dengan lebih rajin, dengan tujuan utama : membuat sang ibu bangga. Pada cawu berikutnya, sang ibu kembali datang saat pengambilan rapornya—meski tak juara satu, si anak naik peringkat. Ibu-ibu lain yang anaknya mendapat juara, tampak mencium anaknya dengan bangga. Si anak pun menginginkan hal yang sama. Dengan penasaran si anak melihat nilai rapornya, “nilainya naik bu … ”, ucapnya penuh kemenangan. “iya … ”, jawab ibu datar. “tapi kamu harusnya bisa lebih dari ini, tuh temen-temen kamu aja bisa”. Yang lebih tampak di pikiran sang ibu adalah anak orang lain, bukn anaknya sendiri. Si anak terdiam, dalam hati ia berpikir; mungkin karena aku belum juara satu, makanya ibu nggak bangga. Maka sang anak pun berusaha lebih keras, target juara satu untuk cawu mendatang. Dan penganbilan rapor pun tiba lagi, si anak berhasil mendapatkan peringkat terbaik di kelasnya. Perjuangan mendaki yang berbuah keberhasilan. Si anak sudah mendengar kabar baik itu, tapi ia ingin melihat bukti langsung di rapornya, melihat angka 1 tertulis di baris peringkat pada rapornya. Dan ia pun menunggu, beberepa menit berlalu, setengah jam berlalu, si ibu belum tampak di sekolah … si anak terus menunggu, acara pembagian rapor sudah dimulai. Namanya dipanggil oleh bu guru di urutan pertama, beberapa kali. Tapi ibunya tak ada. Teman-temannya menyusul, mengajaknya masuk ke dalam kelas. Mengambil sendiri rapornya, dengan tangan mungilnya. Bu Guru memberi selamat, tapi si anak menangis. Menangis hingga semua orang pulang membawa rapor masing-masing, pulang bersama orang tua mereka. &lt;br /&gt; Saat pulang ke rumah, sang anak masih berharap sang ibu akan menunjukkan ekspresi kegembiraan yang luar biasa. Si anak berharap si ibu meminta maaf dan menciumnya, memberikan hadiah atas keberhasilannya. Tapi si ibu hanya tersenyum datar, mengomentari nilainya dan berkata, “tuh kan bisa, coba dari dulu kamu rajin belajar”. Yang lebih tampak di mata sang ibu dalah kekurangannya, bukan kerja kerasnya.&lt;br /&gt;Si anak menangis, marah, menutup diri di kamar. “sejak itu saya mogok belajar, saya belajar bahwa rajin belajar dan menjadi juara bukanlah hal yang penting”. “Waktu itu saya merasa tidak dihargai, justru ketika saya melakukan sesuatu untuk membuatnya bangga”. Pengambilan rapor cawu berikutnya, si ibu datang – justru saat si anak sudah tidak lagi mendapat juara kelas. Kali ini ibunya marah dan kecewa, tapi si anak hanya bilang; “kalau mendapat juara satu tidak membuat ibu senang dan bangga, seharusnya ibu tak usah sedih aku tak lagi juara”.&lt;br /&gt;Seorang teman yang lain, malah memilih untuk tidak memberikan surat undangan pada orang tuanya. Ketika sang guru konfirmasi atas ketidakhadiran sang orang tua, mereka menjawab. “anak saya tidak pernah memberi saya undangan pengambilan rapor”. Dalam hati saya justru bertanya, “mengapa orang tua tidak bertanya pada anak tentang kapan rapornya diambil”. Teman yang lain malah ‘lebih suka’ jika yang mengambil rapor adalah pembantu atau sopirnya, bahkan ada pula yang meminta bantuan tetangga. Mungkin sang anak beranggapan bahwa mereka lebih punya waktu dan akan lebih menghargai nilai-nilai di rapor mereka, setidak-tidaknya mereka tidak akan memarahi si anak.&lt;br /&gt;Bagi anak, pengambilan rapor adalah sebuah momentum. Waktu penting yang tak akan berulang. Hari itu adalah akumulasi dari hari-hari lalu yang penuh perjuangan. Hanya satu hari dalam satu episode penilaian prestasi. Hanya beberapa jam, tak pernah akan terulang. Maka kedatangan orang tua untuk mengambil hasil jerih payah kami, adalah sebuah penghormatan, penghargaan, bukti perhatian dan kepedulian. Bahwa kami, anak-anak adalah penting dan berharga, bahwa usaha kami adalah hal yang penting untuk diapresiasi. Dari sana anak akan belajar menghargai dirinya sendiri. &lt;br /&gt;Mungkin karena ibu seorang guru, maka ibu selalau datang pada waktu pengambilan rapor. Mungkin karena ibu tahu, betapa sang guru merasa perlu berkomunikasi dengan orang tua, mengetahui kondisi anak di rumah, mendiskusikan dengan orang tua langkah-langkah yang bisa diambil untuk peningkatkan prestasi belajar sang anak. Guru hanya punya kesempatan terbatas untuk berkomunikasi dengan orang tua, maka jika kesempatan terbatas itu diabaikan—maka kesempatan untuk memperbaiki makin langka. &lt;br /&gt;Episode pengambilan rapor itu sebenarnya merupakan episode tentang kesungguhan, episode tentang perhatian, komunikasi, penghargaan dan dukungan. Kadang nilai di rapor itu memang tak akan jujur bercerita, tentang kesabaran dan tentang perjuangan anak. Karena itu kita perlu menyusuri hal penting lain yang bernama : proses.  Karena memang bukan nilai-nilai di rapor itu yang membuat si anak berharga. Bukan nilai-nilai di rapor itu yang membuat orang tua bangga. Tapi nilai si anak itu sendiri di hadapan orang tua. Bahwa si anak adalah darah dagingnya, amanah Tuhan untuknya, manusia yang perlu bimbingan, kepercayaan, motivasi dan perhatian. Nilai  si anak itu sendiri di hadapan orang tua, jauh lebih penting dari nilai yang ada di buku rapor itu. Dan anak akan belajar memahami itu semua, mulai dari menyaksikan kedatangan orang tuanya pada momen penting dalam hidupnya. Melihat dan mencatat dalam memorinya, bagaimana reaksi orang tua tas hasil usahanya. Dari situ ia akan belajar tentang, bagaimana aku seharusnya. &lt;br /&gt;Saat mengambil rapor adalah saat dimana anak butuh teman untuk bicara. Bukan hakim untuk memvonis. Tapi orang tua untuk mendengar, untuk berbagi, untuk bersama-sama menasihati diri.  Bahwa rapor yang ada ditangan, nilai-nilai di atasnya, bukan hanya potret kerja sanga anak, tapi juga orang tuanya. Maka ketika bahagia, kebahagian itu bukan hanya untuk si anak. Bahkan ketika hasilnya mengecewakan, maka bukan hanya anak yang bertanggungjawab atas semuanya. Ketika orang tua sedih melihat nilainya, si nak jauh lebih sedih. Maka pengambil rapor dan melihatnya bersama, mendiskusikan hasilnya, adalah kebutuhan bagi si anak dan orang tua. &lt;br /&gt;Saya percaya, setiap anak yang melihat dibalik jendela. Menunggu sang guru memanggil namanya, lalu sang orang tua pun menerima rapornya menginginkan hal yang sama: orang tuanya tersenyum bahagia dan bangga padanya. Tapi kemampuan tiap anak memang berbeda-beda, usaha mereka pun berbeda-beda. Tapi tiap anak punya kebutuhan yang sama : penghargaan. Itulah yang akan membuat mereka menghargai dirinya sendiri (khalida mulyana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7212335869891600377-7803345418805271171?l=semarangfamilycenter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/feeds/7803345418805271171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/02/arti-nilai-rapor-sang-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/7803345418805271171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/7803345418805271171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/02/arti-nilai-rapor-sang-anak.html' title='arti nilai rapor sang anak'/><author><name>Semarang Family Center</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14939110879001308465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7212335869891600377.post-8282660800438554258</id><published>2010-01-27T18:22:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T18:28:28.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsultasi dan curahan hati'/><title type='text'>Be Strong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mendapatkan kekuatan dari kelemahan&lt;br /&gt;“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan masing-masing mukmin ada kebaikan.&lt;br /&gt;Bersemangatlah pada apa apa yang bermanfaat bagimu, meminta tolonglah pada Allah dan jangan merasa tidak mampu… (Hr. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      Kesadaran bahwa kita lemah akan mendorong kita menjadi kuat. Bahwa kelemahan bukanlah takdir. Tapi keadaan yang mesti diperbaiki. Dan kekuatan lebih disukai oleh siapapun, bahkan Allah. Karena dalam kekuatan ada usaha melawan ketidakberdayaan diri. Ada harapan yang mengalahkan keputusasaan. Tetapi kekuatan yang lahir dari keangkuhan, akan roboh karena rapuh. Karena kekuatan itu hanya topeng yang kita gunakan untuk menutupi kelemahan yang tak mau kita akui.&lt;br /&gt;      Memiliki kelemahan bukanlah sebuah kesalahan. Maka cintailah kelemahan … bukan membenci, mengumpat-umpat, mengeluarkan banyak sumpah serapah. Itu akan melipatgandakan kelemahan, menyabotase kekuatan yang terpendam.&lt;br /&gt;Kita tak punya waktu untuk mengasihani diri dan tenggelam dalam kesedihan yang panjang. Banyak hal bermanfaat yang harus kita lakukan untuk menyikapi kelemahan kita.&lt;br /&gt;Jika sedih dan bahagia adalah sebuah pilihan.&lt;br /&gt;Mengapa kita tidak memilih menjadi bahagia. Kita punya pilihan …Kita bisa membuat keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mulai berprasangka baik dan berpikir positif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengubah kerutan cemberut jadi senyum. Menarik garis wajah  lebih lebar ke samping. Menjadi ramah dan baik pada diri kita sendiri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersemangat dan meyakinkan diri kita akan hal baik yang bisa kita lakukan hari ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Segera beranjak dari posisi badan yang membuat kita malas, mulai melakukan aktivitas yang membuat tubuh kita bergerak. Hingga energy tubuh mengalir ke jiwa, membakar semangat hidup &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bertemu dengan orang-orang yang optimis dan bekerja keras, merasakan kebahagiaan saat  mereka bekerja keras. Lalu membiarkan frekuensi semangat itu meradiasi hidup kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengatakan pada diri kita sendiri untuk mulai berjuang dan berusaha. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengucapkan selamat tinggal pada kesedihan dan membuka lembaran baru untuk menjadi bahagia dan bersemangat &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       Bersemangatlah melakukan hal-hal yang bermanfaat bagimu. Semangat akan mendorong kita mencapai tujuan yang telah kita tentukan. Jiwa yang senantiasa tersenyum dan bersemangat akan melihat kesulitan dengan nyaman, serta berusaha memanfaatkannya. Sedangkan jiwa yang muram akan melihat kesulitan sebagai kesedihan yang tak akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ibnu Athailah memberi tips lain yang sangat bagus dalam menyikapi kelemahan ini : “tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu niscaya Allah akan menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaamu, niscaya Allah akan menolongmu dengan sifat kesempurnaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuasan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan daya dan kekuatann-Nya”&lt;br /&gt;Bersemangatlah dan janganlah loyo.&lt;br /&gt;     Teriakkan kata-kata positif dan ucapkanlah berulang-ulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“hasbunallah wa ni;mal wakiil nikmal maula wa ni;mannashir”&lt;br /&gt;“la hawla wa laa quwwata illa billah hil ‘aliyyul ‘adzim”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7212335869891600377-8282660800438554258?l=semarangfamilycenter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/feeds/8282660800438554258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/01/mendapatkan-kekuatan-dari-kelemahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/8282660800438554258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/8282660800438554258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/01/mendapatkan-kekuatan-dari-kelemahan.html' title='Be Strong'/><author><name>Semarang Family Center</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14939110879001308465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7212335869891600377.post-4734642345507877002</id><published>2010-01-27T18:19:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T18:22:46.141-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsultasi dan curahan hati'/><title type='text'>Ada Waktu Untuk Aku</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CGRAVIT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:"Arial Rounded MT Bold"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;“Yuk kita ke pantai”. Lalu ibu membelokkan sepeda motor kami, menuju pantai yang bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di kota ini, aku belum mengetahui keberadaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;Pantai yang unik. Ada batu karang memanjang, banyak kepiting kecil yang bersembunyi di liangnya. Pantainya putih, ada beberapa sampan kecil di tambatkan di pinggirnya. Hanya berjarak sekitar sepuluh meter, ada pohon-pohon, di sampingnya ada sungai kecil, dan di sebelahnya lagi ada perumahan nelayan yang sederhana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;Ombaknya lembut, berkejaran perlahan. Indah … ibu memakirkan motor dekat rumah penduduk. Lalu kami berdua duduk di sebuah dangau. Berdua saja. Tidak ada makanan yang bisa kami makan, karena perjalanan ini memang tidak direncanakan sebelumnya. Lama kami hanya memandang pantai, lalu aku meninggalkan ibu dan bermain dengan ombak. Tertawa takjub, bahagia menghirup udara laut. Rasanya ada penat yang menguap bersama udara laut. Dilarung bersama ombak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;Ibu membiarkan aku menikmati laut. Beliau di sana, sendiri. Larut dalam zikirnya. Setelah menjelajah pantai asing itu hingga basah, aku kembali. Lalu tiba-tiba saja ada banyak kata yang mengucur deras dari mulutku, tentang rindu, tentang cinta, tentang kecewa, tentang cita atau hanya sekedar obrolan ringan dan cerita lucu. Ibu mendengarkan, tersenyum kadang-kadang. Nyaris tak punya kesempatan untuk bicara, menyela ceritaku. Aku merasa istimewa, didengarkan, diberi keleluasaan. Aku merasa seperti anak ibu seutuhnya, bukan hanya anak kedua dari dua saudaraku lainnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;Sejam berlalu, aku masih bercerita dan ibu masih mendengarkan dengan setia. Kesal dan bosan yang tadinya mengendap di dada, menguap tiba-tiba. Lega rasanya, luar biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;Aku lupa, sepertinya tadi ibu mengeluarkan air mata. Terlambat kusadari. Barangkali ibu juga butuh didengarkan, butuh diistimewakan. Matahari makin senja, ibu mengajakku pulang. Sepanjang jalan, dengan kecepatan di bawah 40 km/jam ibu juga bercerita tentang apa saja. Barangkali laut juga telah membuat ibu lega. Atau ibu merasa lega, setelah tahu putrinya merasa lebih baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;Hari itu aku belajar, kadangkala seorang ibu perlu meluangkan waktu berdua saja dengan seorang anaknya. Menepi sejenak dari riuh anak-anaknya yang lain. Mengenal sang anak lebih dalam. Membuat sang anak tahu bahwa ia bukan hanya ‘bagian’ dari banyak anak-anaknya, tapi ia adalah anak sang orang tua, dalam arti seutuhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 200%; font-family: Garamond;"&gt;Kadang-kadang meluangkan waktu berdua saja dengan sang anak, membuat sang anak juga lebih mengenal orang tua, bukan hanya sebagai orang tua—tapi sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang tidak sempurna, tapi manusia yang terus menyempurnakan diri. Sungguh, saat berdua itu—ada memori yang begitu lekat. Menjadi sebuah film nyata kehidupanku yang bernama “kenangan indah”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7212335869891600377-4734642345507877002?l=semarangfamilycenter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/feeds/4734642345507877002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/01/ada-waktu-untuk-aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/4734642345507877002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7212335869891600377/posts/default/4734642345507877002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://semarangfamilycenter.blogspot.com/2010/01/ada-waktu-untuk-aku.html' title='Ada Waktu Untuk Aku'/><author><name>Semarang Family Center</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14939110879001308465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
